Rindu Ketaatan, Berharap Ampunan

Penaklukkan Jerusalem oleh SHALAHUDDIN AL-AYYUBI
January 27, 2018
Manfaat Air Beras Bagi Kesehatan
January 27, 2018

 

Kerinduan akan ketaatan terus tumbuh seiring dengan meningkatnya keimanan dalam hati insan beriman. Sebab ketaatan menjadikan hati cerah dengan keimanan. Sedangkan kemaksiatan yang dilakukan akan meredupkan cahaya iman, bahkan bisa memadamkannya. Karena kemaksiatan akan menjadi noda hitam yang akan menutupi hati .  Rasulullah SAW bersabda,

Sesungguhnya seorang mukmin jika berbuat dosa maka akan ada satu noda hitam di hatinya jika ia bertaubat dan berlepas dari dosanya maka hatinya akan menjadi bersih, namun jika dosanya bertambah maka noda hitam tersebut akan semakin bertambah hingga menutupi hatinya, itulah noda yang disebutkan oleh Allah Azza Wa Jalla dalam Al Qur`an: “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya dosa yang mereka perbuat itu menutupi hati mereka.” HR. Ahmad, no. 7952

Tingkatkan Taat, Jangan Sampai Terlewat

“No Delay” Tidak ada siaran tunda. Barangkali kata yang tepat untuk menggambarkan kesempatan berharga yang berlalu sia-sia. Sebagaimana ajal yang datang menjemput yang tidak mengenal penundaan atau percepatan. Allah berfiman,

“Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” QS. Yunus: 49

Ramadhan adalah kesempatan yang amat berharga untuk disia-siakan. Allah membuka peluang untuk meningkatkan ketaatan yang selebar-lebarnya. Rasulullah SAW menjelaskan, “Bila bulan Ramadlan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan pun dibelenggu.” HR. Muslim, no. 1079

“Maksud dari dibukalah pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup, dan syetan-syetan dibelenggu adalah menunjukkan begitu besar kemuliaan bulan tersebut. Sedangkan dibelenggunya syetan untuk menghalangi mereka mengganggu dan menggoda orang beriman.” Tutur al-Qadhi ‘Iyadh.

Beliau melanjutkan, “Dibukalah pintu-pintu surga sebagai gambaran bahwa Allah membuka peluang bagi hamba-hamba-Nya untuk memperbanyak ketaatan di bulan Ramadhan. Peluang beramal yang tidak terjadi di bulan-bulan selain Ramadhan contohnya puasa, shalat malam (tarawih_pent), dan meninggalkan sesuatu yang melanggar syariat. Ini merupakan sebab-sebab untuk memasuki pintu surga Allah.” (Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawi, 7/164)

Ampunan-Nya yang Sangat Diharapkan

Tidak ada manusia yang terbebas dari dosa (ma’shum) selain Rasulullah SAW. Tidak seperti anggapan Syi’ah yang mengganggap para imam mereka bersifat ma’shum. Allah telah menjaminkan ampunan dosa bagi Rasulullah baik yang telah berlalu atau yang akan datang. Allah berfirman,

“Agar Allah Memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang,” QS. Al-Fath: 2

Ibnu Katsir mengutip hadits dari Anas bin Malik Ra yang berkata, “Telah turun kepada Nabi SAW ayat ini sekembalinya dari Hudaibiyah. Lantas Beliau bersabda, ‘Telah diturunkan kepadaku satu ayat yang lebih aku sukai dari semua yang terbentang di atas muka bumi.’ Beliau kemudian membacakan ayat tersebut untuk para sahabat. Para sahabat pun lantas berkata, ‘Bergembiralah wahai Rasulullah. Sungguh Allah telah menjelaskan untukmu apa yang akan Dia perbuat kepadamu. Lantas bagaimana dengan kami?’ Maka turunlah ayat ‘Agar Dia Masukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan Dia akan Menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu menurut Allah suatu keuntungan yang besar, QS. Al-Fath: 5’” HR. Ahmad, no. 13035

Selain anjuran untuk memperbanyak ketaatan, bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memohon ampunan kepada Allah. Do’a yang begitu indah untuk dipanjatkan kepada Rabb yang Maha Pengampun telah Rasulullah ajarkan.

Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam apakah lailatul qadr, maka apakah yang aku ucapkan padanya? Beliau mengatakan: “Ucapkan,

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ampunan dan Maha Pemurah, Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku.”HR. Tirmidzi, no. 3513

Ibadah Bukan Moment Sesaat

                Basyar al-Hafi pernah ditanya perihal orang yang beribadah dan semangat dalam beramal hanya di bulan Ramadhan. Bila Ramadhan berlalu, hilanglah rutinitas ibadahnya. Beliau menjawab, “Begitu buruknya suatu kaum yang tidak pernah mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan. Sesungguhnya yang disebut orang shalih adalah yang serius dalam ibadah selama setahun penuh.” ( Nida’u ar-Rayyan fi Fiqhi ash-Shaum wa Fadhli Ramadhan, 1/163)

Mudah-mudahan, hadirnya Ramadhan menjadikan hidayah Allah senantiasa melekat dalam diri kita. Keimanan dalam hati semakin meningkat, serta kerinduan akan ketaatan selalu terpatri dalam sanubari. Sehingga meskipun Ramadhan telah berlalu pun, semangat dalam ketaatan senantiasa hadir dari dalam jiwa kita. Semoga hal itu menjadi pertanda bahwa Allah telah mengampuni kita di bulan Ramadhan. Cukuplah hadits Rasulullah sebagai pelecut semangat diri. Wallahu a’lam. Hendri

 

Referensi:

  1. Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad, Tahqiq: Syu’aib Arnauth, dkk, (Beirut: Muassah ar-Risalah, 1421 H/ 2001 M)
  2. Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Tahqiq: Muhammad Fuad ‘Abdu al-Baqi, (Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-Arabi, tt)
  3. Yahya bin Syarah an-Nawawi, Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawi, Tahqiq: Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi, ( Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1421 H/ 2000 M)
  4. Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, dkk, (Mesir: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthafa al-Babi al-Halbi, 1395 H/ 1975)
  5. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim, Tahqiq: Muhammad Husain Syamsu ad-Din, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H)
  6. Sayyid bin Husain bin Abdullah al-‘Affani, Nida’u ar-Rayyan fi Fiqhi ash-Shaum wa Fadhli Ramadhan, (Jeddah, Dar Majid ‘Usairi, tt)
Inline
Inline