Menyesal karena Tertinggal

Manfaat Bersiwak
January 27, 2018
Taqdir Allah yang Lebih Indah
January 27, 2018

 

“Belum pernah aku mendapati hariku sebagaimana hari ini.” Umpat Abu Sufyan karena merasa harga dirinya sebagai petinggi suku Quraisy direndahkan oleh Umar bin Khattab. Hal itu dikarenakan Umar bin Khattab lebih mengutamakan Shuhaib dan Bilal daripada dirinya beserta al-Harits bin Hisyam dan Suhail bin Amr. “Mereka (yang mantan budak) diizinkan bertamu sementara kita dibiarkan di depan rumahnya tanpa menoleh kepada kita sama sekali.” Lanjut Abu Sufyan

Dengan pemikiran yang matang, Suhail bin Amr menegur Abu Sufyan,

“Wahai kaumku, sungguh diriku —demi Allah— melihat raut muka kalian penuh amarah.  Jika kalian marah, marahlah kepada dirimu sendiri! Sebab mereka dahulu diseru kepada Islam dan kalian pun juga diseru. Tetapi mereka bersegera menyambut seruan tersebut sedangkan kalian berlambat-lambat dalam menerimanya. Lantas bagaimana keadaan kalian kelak pada hari kiamat, jika mereka diseru untuk masuk ke dalam jannah terlebih dahulu sedang kalian ditinggalkan?”(Al-Muntadham fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, IV/260)

Keberuntungan yang Besar

Islam akan tetap mulia tanpa kita. Sebab kemuliaan Islam sudah menjadi janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. bersabda,

“Agama Islam tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.” (HR. al-Bukhari)

As-Sindi mengatakan, “Bahwa Islam lebih tinggi daripada agama yang lainnya dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.”

Allah akan menjaga Islam dengan menghadirkan generasi yang lurus dalam ber-Islam. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam menjelaskan,

“Senantiasa akan ada dari ummatku, (sekelompok) ummat yang tegak di atas urusan agama Allah, tidak dapat membahayakan mereka orang yang menghina mereka dan tidak pula orang yang menyelisih mereka hingga datang ketetapan Allah atas mereka dan mereka dalam keadaan seperti itu (tetap tegak dalam urusan agama Allah).” HR. al-Bukhari

Sedangkan kita tanpa Islam hanya menjadi makhluk yang rendah dan hina. Seberapa pun baiknya amal yang dikerjakan, jika meninggal tanpa memeluk Islam kerugian di akhirat yang akan menanti. Allah mengingatkan,

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”  QS. Ali Imran: 85

Meninggal dalam keimanan merupakan keberuntungan yang besar. Allah berfirman,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai;  itulah keberuntungan yang besar.” QS. Al-Buruj: 11

Oleh karena itu, hidayah yang bersemayam dalam diri perlu disyukuri. Meskipun datangnya di penghujung usia, selama matahari belum terbit dari barat atau nyawa sampai di kerongkongan, taubat belum terlambat.

 

Mengejar Ketertinggalan

Dalam Islam terdapat dua keistimewaan seseorang yang memasuki  jannah. Pertama, keistimewaan masuk jannah terlebih dahulu. Kedua, keistimewaan derajat yang tinggi di jannah. Seseorang bisa mendapat keduanya atau salah satunya.               (Hadi al-Arwah Ila bilad al-Afrah, 118)

Hidayah yang datang belakangan jangan menghalangi untuk berlomba dalam kebaikan. Merasa sudah tertinggal jauh dari yang lebih dahulu masuk Islam, seharusnya menjadikan diri lebih semangat mengejar ketertinggalan.

Utsman bin ‘Affan memang lebih dahulu masuk Islam daripada Umar bin al-Khattab. Tetapi Umar berhasil mengejar ketertinggalannya. Semua ulama ahlus sunnah sepakat bahwa Umar lebih utama daripada Utsman. Meskipun masing-masing memiliki keutamaan.

Mengejar ketertinggalan dengan beramal untuk Islam. Beramal untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Tidak sekedar menjadikan dirinya shalih tetapi juga peduli dengan kondisi Islam dan kaum muslimin.

Para sahabat tidak hanya beramal untuk keshalihan diri. Tetapi mereka mencurahkan pemikiran, kesempatan, harta, bahkan jiwanya untuk kemuliaan Islam. Sehingga mereka menjadi generasi terbaik didikan Rasulullah Saw. Abdullah bin Mas’ud mengatakan:

“Barangsiapa yang ingin mengambil teladan, hendaklah mencontoh orang yang sudah tiada. Karena orang yang masih hidup tidaklah aman dari fitnah. Mereka adalah para sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Generasi terbaik umat ini, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, sedikit bebannya. Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Akuilah keutamaan mereka, ikutilah jejak dan akhlaknya semampu kalian. Sungguh mereka di atas petunjuk yang lurus.” (ar-Rahiqul al-Makhtum, 172)

Ikut Serta ‘Rombongan Kereta’

Bulan Muharram yang menjadi permulaan dari tahun Hijriyah mengingatkan akan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Meskipun Nabi hijrah bukan pada bulan Muharram. Tetapi hijrahnya Nabi, menjadi titik awal dari kemuliaan Islam.

Allah tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Janji berupa Allah akan menjadikan Islam mulia dan memeliharanya meskipun kita tidak ikut serta beramal. Tapi, relakah jiwa yang mengakui bahwa Rabb-Nya adalah Allah, rasul-Nya adalah Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam, dan Islam sebagai agamanya hanya diam diri?

Para sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam menjadi mulia karena pengorbanan yang mereka torehkan dalam lembaran sejarah. Tujuan yang ingin dicapai agar Islam menjadi mulia dan mereka sudah membuktikan.

Allah akan menghadirkan golongan yang senantiasa lurus dalam beragama dan memperjuangkan agama-Nya. Akankah kita ikut serta dalam ‘rombongan kereta’ yang berusaha memperjuangkan agama Allah guna mengejar ketertinggalan? Mari kita renungkan! Hendri

 

Referensi            :

  1. Ibnul Jauzy, Al-Muntadham fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk ,Tahqiq: Muhammad Abdul Qadir ‘Atha dk, (Beirut: Dar al-Kutub, al-‘Ilmiyah, 1412 H/ 1992 M)
  2. Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Tahqiq: Muhammad Zuhair bin Nashir an-Nashir, (Dar Thuq an-Najah, 1422 H)
  3. Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dkk, (…; Muassasah ar-Risalah, 1421 H/ 2001 M)
  4. Ibnul Qayyim al-Jauziyah, Hadi al-Arwah Ila bilad al-Afrah , (Kairo: Mathba’ah al-Madani, tt)
  5. Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, ar-Rahiq al-Makhtum, (Beirut: Dar al-Hilal, tt)
Inline
Inline