Taqdir Allah yang Lebih Indah

Menyesal karena Tertinggal
January 27, 2018
Pengadaan Mobil Layanan Dakwah
February 5, 2018

 

Rasa penasaran menyelimuti diri seorang pemuda bernama Abullah bin Saib. Penasaran tersebut muncul karena dia menyaksikan  Sa’ad bin Abi Waqash  yang sudah buta datang ke Makkah dan orang-orang pun langsung berbondong-bondong datang kepadanya. Masing-masing dari mereka memohon kepadanya agar didoakan kepada Allah sesuai dengan apa yang diminta. Sebab Sa’ad adalah sahabat Rasulullah SAW yang memiliki keistimewaan dengan do’a yang selalu terkabul.

Akhirnya dia memberanikan diri datang dan bertanya kepada Sa’ad bi Abi Waqash ra. Setelah memperkenalkan diri dan Sa’ad juga memperkenalkan dirinya. Pemuda tersebut bertanya, “Wahai paman, engkau mendoakan untuk kesembuhan banyak orang dan mereka pun disembuhkan oleh Allah. Mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanmu? Dengan tersenyum Sa’ad menjawab, “Wahai anak muda, sungguh takdir Allah lebih aku cintai daripada kembalinya penglihatanku.” (Madarii as-Salikin, 2/217)

 

Menabur Kisah, Menuai Hikmah

Menyelami kisah hidup Rasulullah SAW, maka akan didapati dalam dan luasnya hikmah yang bisa diteladani. Begitu banyak derita yang dialami olehnya, tak menyurutkan langkah dalam berdakwah. Salah satunya Allah menjelaskan tentang keadaan Rasulullah SAW dan orang-orang yang beriman,

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Qatadah, as-Sudi, dan kebanyakan mufassir mengatakan bahwa ayat ini diturunkan ketika Perang Khandaq ketika kaum muslimin ditimpa berbagai macam kepayahan. (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 3/33)

Ketika Rasulullah SAW dan kaum muslimin dalam keadaan demikian, Maka Allah mengirimkan pertolongannya,

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami Kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah.

                Di situlah diuji orang-orang Mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.” (QS. Al-Ahzab:9-11)

Dari taburan kisah tentang hidup Rasulullah SAW, dapat kita tuai beragam hikmah yang begitu banyaknya. Sebab beliau adalah sosok suri tauladan terbaik sepanjang zaman.

Janji Allah yang Selalu Ditepati

Allah menolong Rasulullah dalam Perang Khandaq tersebut merupakan salah satu janji-Nya. Karena Dia  tidak pernah memungkiri janji. Allah SWT berfirman,

“Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 6)

Kesulitan dalam hidup jangan pernah menjadikan iman kita goyah. Sebab manusia selalu mendapat ujian dalam hidupnya. Abdullah bin Mas’ud mengatakan,

فَإِنَّ الحَيَّ لَا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الفِتْنَةِ

”Sungguh, manusia yang masih hidup tidak bisa menjamin dirinya selamat dari ujian” (Ar-Rahiq al-Makhtum, 130)

Bila kita lari dari Allah karena ujian, maka Allah akan memalingkan kita kepada musibah yang lebih besar. Ibnul Qayyim menjelaskan dalam syairnya,

هَرَبُوا مِنْ رِقِّ الَّذيْ خُلِقُوا لَهُ    فَبُلُوا بِرِقِّ النَفْسِ و َ الشَّيْطَانِ

“Manusia yang lari dari peribadahan kepada Allah, maka ia akan mendapat musibah berupa perbudakan kepada hawa nafsu dan syaitan.” (Mutun al-Qashidah an-Nuuniyah, 308)

Sebesar apa pun ujian bagi seorang hamba, Allah tidak akan pernah membebani melebihi kapasitas keimanannya. Semakin besar imannya, ujian yang dihadapi akan berbeda dengan seseorang yang keimanannya lemah. Tetapi, kita perlu meyakinkan diri bahwa janji akan pertolongan Allah adalah pasti.

Hapus Penyesalan Karena Memilih Keimanan

                Penyesalan karena memilih keimanan merupakan bisikan dari syaitan yang perlu disingkirkan. Ketika beramal untuk Islam kemudian ujian datang melanda, hilangkan ungkapan atau bisikan dalam hati, “Seandainya aku dulu tidak ikut beramal untuk Islam. Sehingga keadaanku tidak seperti hari ini.”

Memilih beriman, berarti memilih menanggung konsekuen yang harus diemban. Waktu yang diluangkan, tenaga yang dikerahkan, pikiran yang dicurahkan, harta yang dikeluarkan, dan jiwa yang dikorbankan untuk membuktikan bahwa iman kita diiringi dengan kejujuran. Sebab Allah mengingatkan,

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya). (QS. Al-Ahzab: 23)

Semoga kita termasuk orang yang jujur dengan keimanan. Sehingga Allah menjadikan jiwa kita ridha dan menganggap takdir Allah lebih baik nan indah, serta yakin akan janji pertolongan-Nya. Wallahu A’lam. Hendri Supriyanto

 

Referensi            :

  1. Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Madarij as-Salikin, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1416 H)
  2. Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyah, 1384 H)
  3. Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, (Damaskus: Dar al-‘Ushama’, 1427 H)
  4. Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Mutun al-Qashidah an-Nuuniyah, (Kairo: Maktabah Ibnu Taimiyah, 1417 H)

 

Inline
Inline