Pagi dengan mentari yang menyapa ceria. Tak seceria bila hati berduka. Wajah bermuram durja. Seakan awan hari dengan mendung enggan untuk tertawa.

Cahayakan hati dengan dzikir dan do’a. Agar bening hati kembali menyapa. Mengusir segala nestapa. Menyusun hari dalam bahagia. Melibatkan Yang Maha Kuasa.

اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ

“Ya Allah, nikmat yang kuterima atau diterima oleh seseorang di antara makhluk-Mu di pagi ini adalah dari-Mu.

Maha Esa Engkau, tiada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan kepada-Mu panjatan syukur (dari seluruh makhluk-Mu).”
HR. Abu Daud 4/318.

Memuji dan bersyukur bukan perkara sederhana. Terlebih ditujukan kepada Dazat Yang Syakuur lagi Yang Maha Berjasa. Begitu indah mengistimewa.

Suguhan pagi yang beragam rupa. Dari rezeki harta yang entah kemana. Sehat yang mulai malu bercengkerama. Bahagia yang lama ditunggu namun melupa.

Jangan usik syukur do’a dan dzikir dalam hati dan lisan terus menggema. Agar betah menemani hari dan waktu mencerah menceria.

Yang enggan lisan mengingatNya. Enggan pula kebaikan dan kebahagiaan menyapa. Seakan antara keduanya menunggu ada jeda.

Semoga tak jenuh hati kita terhubung denganNya. Sebagaimana tak penuh lisan kita dari berdzikir dan berdo’a disetiap masa.

Leave a Comment