Sebuah citarasa. Dicipta dengan seni tak biasa. Sekalipun dari apa yang ada. Namun lebih dibumbui oleh makna. Begitulah, tak ubahnya proses kehidupan dalam cicipan masa.

Yang tak mau repot dengan diri menempa. Tetap akan melewati masa. Namun tak banyak yang diunggah sebagai pahala. Apalagi jariyah menyambung usia.

Yang ingin meneladani teladan utama. Begitu gigih memahat masa dengan prestasi dan karya. Hingga membingkai membentuk maha karya istimewa. Membuat hati menatapnya penuh pesona.

Dengan waktunya berlomba. Tak ingin sedetik pun tersia. Dibuat usianya menjalar diatas lanjaran keutamaan taqwa. Hinga tak liar tumbuh tanpa cara.

Panglima Besar Jenderal Soedirman meninggal diusia muda. Di 36 tahun usianya. Lihatlah diusia yang sebaya. Dan mungkin kita diantara yang diumur sama.

Bukan pula banyak tersentuh media. Hingga banyak inspirasi diunggah dan menjadi petunjuk arah meniti tangga. Namun, justru disuasana desa. Jauh dari aroma keangkuhan dan ketenaran nama.

“Guru ngaji” anak-anak dari Al Qur’an yang dibaca. “Mas Kyai” seringnya akrab dipanggil oleh sesama. Ketika seruan berjuang tiba. Ia pun menjawab panggilan dengan cara gerilya.

Tak berubah amalan yang membiasa. Bahkan semakin di jaga. Sholat tepat waktu, menjaga wudlu, dan berusaha bersedekah disetiap singgah dimana saja.

Tak akan berkhianat, ketaqwaan dalam kehidupan menuju mulia. Sejak didunia hingga kelak disana.

Leave a Comment