Syukur bisa beribadah. Begitu hebatnya, melebihi yang hilang syukurnya berganti gelisah. Sekalipun sudah banyak ibadah.

Sebab, ibadah nikmat terindah. Tak selayaknya rasa syukur luntur untuknya dan tersiakan mudah. Bahkan syukur sekecil apapun layak diunggah.

Agar rasa berterimakasih dalam hati istiqomah. Tak hanya dengannya nikmat-nikmat bertahan betah. Kualitas dan kwantitas nikmat dalam hidupnya pun kian bertambah.

Menyesali nikmat yang terlepas seiring waktu hingga membuat gelisah parah. Tak akan mengembalikan nikmat terulang singgah.

Tapi dengan bersyukur yang terus digali dalam beragam hikmah. Ajaibnya, nikmat pun tiba-tiba terangkai tertata mudah. Yang tak disangka lama sekalipun, datang tertarik oleh pusaran syukur yang berlimpah.

حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“…sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, “Ya Robbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau, yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridai;

Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepadaMu. Dan sesungguhnya aku temasuk orang-orang yang berserah diri.”
QS Al Ahqof : 15

Semoga kita menjadi ahli syukur di segala nikmat dan ibadah !

Leave a Comment