Bertaqwa, bukan pembahasan pertama. Juga bukan berarti dijalaninya sederhana. Sebab yang ingin menapaki “jalan berbagi” tanpa taqwa tak akan sempurna.

Sebuah perjalanan menebar manfaat butuh sarana. Terkadang berbentuk media. Terkadang berbentuk senjata. Dan taqwa untuk bekal itu semua tersedia.

Ada kalanya lewat amalan hati di akses Yang Maha Kuasa. Dengan baiknya prasangka. Dan hati yang percaya. Serta iman yang meyakini paripurna. Dijalan-Nya tak akan tersia.

Adakalanya, dengan amalan lesan di akses Yang Maha Mengatur semesta. Lewat lisan yang berdo’a. Berdzikir yang lama. Dan betahnya kalamullah dibaca.

Adakalanya dengan amalan anggota badan, di akses Yang Maha Bisa. Dalam sujud yang menghitamkan kening kepala. Atau dengan lapar puasa menahan lapar dahaga.

Adalalanya dengan amalan harta diakses Yang Maha Kaya. Agar besarnya modal dan biaya. Dalam mewujudkan taqwa. Tak membuat gentar dan melemah tak berdaya.

Bertaqwa akhirnya tak hanya bekal istimewa. Tapi juga sebaik-baik bekal yang utama. Membuat hamba kepada Robbnya lebih cinta.

Semoga dimampukan kita untuk selalu mengakses takwa.

1 Comment

Leave a Comment